Minggu, 19 Juli 2009

Mungkinkah Indonesia Satu zona waktu?
(Indonesian Single Time)

Cina,yang luasnya 1/15 luas daratan bumi hanya menerapkan satu zona waktu.Indonesia bisa saja menyepakati waktu/jam jika seandainya menguntungkan bagi kita semua.Dan Indonesia
sesungguhnya bisa menghemat jutaan kWh dan uang miliaran rupiah pertahun dengan menerapkan kebijakan yang serupa tapi tapi tak sama misalnya dengan menghapus WIB,WITA dan WIT menjadi Satu Zona Waktu.

Dan semoga tiga bagian waktu di indonesia di buat wacana untuk disamakan.Namun topik ini kalau tidak salah pernah di tulis di sebuah situs berita online dan pernah di diskusikan dengan sangat antusias di salah satu millis operation management Indonesia. Dan salah satu option yang mengemuka adalah waktu di samakan dengan WITA:WIB maju satu jam & WIT mundur satu jam.

Penerapan kebijakan satu zona waktu untuk seluruh Indonesia itu salah satu keuntungannya adalah akan membuat seolah-olah kedatangan malam menjadi tertunda di sebagian besar wilayah indonesia, yang efeknya akan mendorong orang menunda menyalakan ampu.Berarti, ada potensi penghematan energi Demand side Management in Electricity.

Dengan terjasdinya defisit anatara supply and demand listrik di indonesia, serta dengan semakin mahalnya biaya ppokok penyediaan listrik, dalam hal ini pemerintah & PLN pasti akan setuju.Dengan menunda menyalakan lampu satu jam saja, berapa energi dan biaya yang bisa di hemat perharinya, perminggunya, perbulannya, pertahunnya dan seterusnya.

Keuntungan lainnya adalah seluruh kota yang ada di bagian barat Indonesia (WIB) yang relatif lebih dominan di hampir semua bidang di bandingkan kota-kota di bagian timur Indonesia(WIT) terutama bidang Ekonomi, maka untuk memulai aktifitas serta untuk mendapatkan informasi jadi lebh awal dari sebelumnya.

Perdagangan Internesional termasuk pasar modal dan valas akan lebih awal di mulai bahkan menjadi serentak dengan Hongkong dan hanya terlambat satu jam dari Tokyo. Pasti akan ada keuntungan yang dapat diambil dari sini yang mungkin perlu di kaji lebih jauh. Dan tentu saja aktifitas ekonomi di seluruh Indonesia dilaksanakan serentak dan akan lebih efektif.

Namun penyamaan waktu di Indonesia tentu saja ada ruginya juga. Selain ada biaya yang timbul, yang lainnya adalah masalah perubahan kebiasaan. Untuk penduduk di bagian barat Indonesia harus memulai aktifitas lebih awal, padahal hari agak masih gelap, namun hal ini akan terbiasa. Sebaliknya masarakat di Jayapura akan mengakhiri aktifitas ketika hari ketika hari mulai gelap.

Untuk kaum muslim yang biasa menjalankan salat, misalnya salat dzuhur di Jakarta menjadi pukul 13.15, dengan sendirinya ISHOMA (Istirahat Solat dan makan) menjadi antara jam 13.00-14.00, kemudian alat Maghrib menjadi pukul 19.30 menunggu matahari terbenam. Itu kira-kira yang akan menjadi masalah kedepannya.

Justru, masalahnya sekarang mengapa pembagian tiga zona waktu tetap di pertahankan, apabila ternyata terobosan baru bisa lebih mendatangkan keuntungan secara finasial dan efesien secara nasional. Dan pembagian wilayah Indonesia menjadi tiga zona menjadi aneh. Misalnya begini, Bali dan Surabaya yang secara faktual hanya berbeda beberapa menit saja, tetapi akibat dari pembatasan wilayah waktu yang kaku, menjadi berbeda satu jam.

Dari salah seorang yang pro Indonesian Time synchronisation pada pembahsan topik ini disebuah millis management, menulis "motor penggerak saja perlu disinkronkan, untuk menghindari chain atau beltnya putus. Maka penyinkronan waktu antara WIT, WITA, & WIB bisa menjadi salah satu pemicu awal dari penyinkronan yang lain.

Karena memang terlalu banyak hal di negri ini yang memang tidak berjalan secara sinkron. Direct impact memang kecil, tapi multiple imapactnya yang bakalan heboh dan luar biasa. Ibaratnya dari tiga motor yang saling bertubrukan, menjadi tiga buah motor yang saling mendukng.

Namun persoalannya sekarang adalah, apakah pihak pemerintah yang paling berwenang dapat melakukan sinkronisasi dan punya komitmen akan hal tersebut. Dan selanjutnya hal apa saja yang harus di lakukan untuk mengimplemetasikan Indonsian Single Time. Hal-hal inilah kiranya yang harus kita pikikan dan didiskusikan bersama-sama lebih lanjut.

Atau mungkin pemerintah belum melihat hal ini sebagai yang urgen untuk saat ini. Kita semua ingin sesuatu perubahan, namun pastinya yang positif. Sebagai bangsa dan negara dengan potensi yang sangat besar, namun belum maksimal dimanfaatkan untuk kesejahteraan rakyat dan memang banyak perubahan yang harus kita lakukan.

Walaupun masih berupa wacana dan agak mendasar, Indonesia satu Zona Watu ini mungkin menjadi salah satu perubahan di tanah air tercinta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar